Senin, 03 Juni 2013

JUAL BELI

Dasar Hukum Jual Beli
1. Menurut Al-Qur `an
- Allah Swt berfirman,
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ
Yang artinya: "Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil bisnis) dari Tuhanmu." (QS Al-Baqarah 2: 198)
Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas bahwa Imam Bukhari rh berkata bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepadaku Ibnu Uyainah, dari Amr, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa di masa jahiliyah, Ukaz, Majinnah dan Zul-Majaz merupakan pasar-pasar tahunan. Mereka merasa berdosa bila melakukan bisnis dalam musim haji. (Tafsir Ibnu Katsir)
Hadist tentang jual beli.

عَنْ الْمِقْدَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه ُعَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Daripada al-Miqdam, daripada Rasulullah s.a.w. sabdanya: “Tidak makan seseorang itu satu makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud a.s. makan dari usaha tangannya sendiri.
(al-Bukhari: 2072).
Perniagaan atau jual beli merupakan sebaik-baik usaha apabila segala hukum dan adab dipatuhi. Ia merupakan satu aqad pertukaran harta dengan harta secara rela. Maksud harta di sini ialah pertukaran antara dua barang yang berbeza atau pertukaran antara barang dan wang.

Setiap jual beli mabrur bermaksud jual beli yang selamat daripada tipu daya, pembohongan dan sumpah palsu. Dengan kata lain, jual beli yang dijalankan dengan mengikut hukum shara’ dan menjauhi daripada dosa-dosa. Mabrur berasal dari perkataan البِرّ ya’ni satu perkataan yang merangkumi ma’na segala kebaikan dan kesempurnaan dan lawannya ialah perkataan الإثم, iaitu kalimah yang merangkumi segala bentuk kejahatan dan keaiban .

2. As-Sunnah
Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut.
" إنما البيع عن تراض "(رواه ابن ماجه)
Artinya : “Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka suka sama suka.” (HR Bukhari)

ﺃﻠﺒﻴﻌﺎﻥ ﺑﺎ ﻟﺨﻴﺎﺭ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻴﺘﻔﺮﻗﺎ ( ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻠﺒﺨﺎﺮﻯ ﻭ ﻤﺴﻠﻢ)
Artinya : “ Dua orang jual beli boleh memilih akan meneruskan jual beli mereka atau tidak, selama keduanya belum berpisah dari tempat akad.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang melakukan jual beli dan tawar menawar dan tidak ada kesesuaian harga antara penjual dan pembeli, si pembeli boleh memilih akan meneruskan jual beli tersebut atau tidak. Apabila akad (kesepakatan) jual beli telah dilaksanakan dan terjadi pembayaran, kemudian salah satu dari mereka atau keduanya telah meninggalkan tempat akad, keduanya tidak boleh membatalkan jual beli yang telah disepakatinya.
  Rukun dan syarat Jual Beli
Dalam pelaksanaan jual beli, minimal ada tiga rukun yang perlu dipenuhi.

a.       Penjual atau pembeli harus dalam keadaan sehat akalnya
Orang gila tidak sah jual belinya. Penjual atau pembeli melakukan jual beli dengan kehendak sendiri, tidak ada paksaan kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya. Apabila ada paksaan, jual beli tersebut tidak sah.


b. Syarat Ijab dan Kabul
Ijab adalah perkataan untuk menjual atautransaksi menyerahkan,Kabul adalah ucapan si pembeli sebagai jawaban dari perkataansipenjual, misalnya saya membeli mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Sebelumakad terjadi,biasanya telah terjadi proses tawar menawar terlebih dulu.
Pernyataanijabkabul tidak harus menggunakan kata-kata khusus. Yang diperlukan ijab kabul adalahsalingrela(ridha) yang direalisasikan dalam bentuk kata-kata. Contohnya, aku jual, aku berikan, aku beli, aku ambil, dan aku terima. Ijab kabul jual beli juga sah dilakukan dalam bentuk tulisan dengan sarat bahwa kedua belah pihak berjauhan tempat, atau orang yang melakukan transaksi itu diwakilkan.Di zaman modern saat ini,jual beli dilakukan dengan cara memesan lewat telepon.Jula beli seperti itu sah saja,apabila si pemesan sudah tahu pasti kualitas barang pesanannya dan mempunyai keyakinan tidak ada unsur penipuan.

c.       Benda yang diperjualbelikan
1) Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi sarat sebagai berikut
2) Suci atau bersih dan halal barangnya
3) Barang yang diperjual belikan harus diteliti lebih dulu
4) Barang yang diperjual belikan tidak berada dalam proses penawaran dengan orang lain
5) Barang yang diperjual belikan bukan hasil monopoli yang merugikan
6) Barang yang diperjual belikan tidak boleh ditaksir (spekulasi)
7) Barang yang dijual adalah milik sendiri atau yang diberi kuasa
8) Barang itu dapat diserahterimakan
Perilaku atau sikap yang harus dimiliki oleh penjual
a.     Berlaku Benar (Lurus)
Berperilaku benar merupakan ruh keimanan dan ciri utama orang yang beriman. Sebaliknya,dusta merupakan perilaku orang munafik.Seorang muslim dituntut untuk berlaku benar, seperti dalam jual beli, baik dari segi promosi barang atau penetapan harganya. Oleh karena itu, salah satu karakter pedagang yang terpenting dan diridhai Allah adalah berlaku benar.
Dusta dalam berdagang sangat dicela terlebih jika diiringi sumpah atas nama Allah. “Empat macam manusia yang dimurkai Allah, yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang congkak, orang tua renta yang berzina, dan pemimpin yang zalim.”(HR Nasai dan Ibnu Hibban)


b. Menepati Amanat
Menepati amanat merupakan sifat yang sangat terpuji. Yang dimaksud amanat adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya. Orang yang tidak melaksanakan amanat dalam islam sangat dicela.
Hal-hal yang harus disampaikan ketika berdagang adalah penjual atau pedagang menjelaskan ciri-ciri, kualitas, dan harga barang dagangannya kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannya. Hal itu dimaksudkan agar pembeli tidak merasa tertipu dan dirugikan.


c. Jujur
Selain benar dan memegang amanat, seorang pedagang harus berlaku dengan jujur. Kejujuran merupakan salah satu modal yang sangat penting dalam jual beli karena kejujuran akan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merugikan salah satu pihak. Sikap jujur dalam hal timbangan, ukuran kualitas, dan kuantitas barang yang diperjual belikan adalah perintah Allah SWT.
Sikap jujur pedagang dapat dicontohkan seperti dengan menjelaskan cacat barang dagangan, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya
“Muslim itu adalah saudara muslim, tidak boleh seorang muslim apabila ia
berdagang dengan saudaranya dan menemukan cacat, kecuali diterangkannya.”
Lawan sifat jujur adalah menipu atau curang, seperti mengurangi takaran, timbangan, kualitas, kuantitas, atau menonjolkan keunggulan barang tetapi menyembunyikan cacatnya. Hadis lain meriwayatkan dari umar bin khattab r.a berkata seorang lelaki mengadu kepada rasulullah SAW sebagai berikut “ katakanlah kepada si penjual, jangan menipu! Maka sejak itu apabila dia melakukan jual beli, selalu diingatkannya jangan menipu.”(HR Muslim)

d. Khiar
Khiar artinya boleh memilih satu diantara dua yaitu meneruskan kesepakatan (akad) jual beli atau mengurungkannya (menarik kembali atau tidak jadi melakukan transaksi jual beli). Ada tiga macam khiar yaitu sebagai berikut.

1) Khiar Majelis
Khiar majelis adalah si pembeli an penjual boleh memilih antara meneruskan akad jual beli atau mengurungkannya selama keduanya masih tetap ditempat jual beli. Khiar majelis ini berlaku pada semua macam jual beli.


2) Khiar Syarat
Khiar syarat adalah suatu pilihan antara meneruskan atau mengurungkan jual beli setelah mempertimbangkan satu atau dua hari. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka jual beli harus ditegaskan untuk dilanjutkan atau diurungkan. Masa khiar syarat selambat-lambatnya tiga hari

3) Khiar Aib (cacat)
Khiar aib (cacat) adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila barang tersebut diketahui ada cacatnya. Kecacatan itu sudah ada sebelumnya, namun tidak diketahui oleh si penjual maupun si pembeli. Hadis nabi Muhammad SAW. Yang artinya : “Jika dua orang laki-laki mengadakan jual beli, maka masing-masing boleh melakukan khiar selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul, atau salah satu melakukan khiar, kemudian mereka sepakat dengan khiar tersebut, maka jual beli yang demikian itu sah.” (HR Mutafaqun alaih)
3.  Ijma
Ijma’ artinya kesepakatan semua ulama’ mujtahidin dari ummat Muhammad SAW pada suatu masa, atas suatu hukum syari’at. Jadi, apabila para ulama’ itu telah sepakat – baik di masa sahabat maupun sesudahnya – atas salah satu hukjm syari’at, maka kesepakatan mereka adalah merupakan ijma’, sedang melaksanakan apa yang mereka sepakati adalah wajib.

Dalilnya, bahwa nabi SAW telah memberitakan, bahwa para ulama’ kaum muslimin takkan sepakat atas satu kesesatan. Jadi kesepakatan mereka adalah merupakan kebenaran. Dalam Musnadnya (6 396),

Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Bashrah al-Ghifari RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 سَأَلْتُ اللهَ عَزَّوَجَلَّ اَنْ لاَيَجْمَعَ اُمَّتِى عَلَىَ ضَلاَلَةٍ فَاَعْطَانِيْهَا. 

Aku telah meminta kepada Allah ‘Azza Wa Jalla’ agar ummatku tidak menyepakati suatu kesesatan, maka permintaanku itu Dia perkenankan.

Contohnya ialah ijma’ para sahabat RA, bahwa kakek mengambil seperenam harta peninggalan si mayi, bila ada anak lelaki, sedang ayah mayit itu tidak ada.
Kedudukan Ijma' dalam Fiqih Islam

Sebagai rujukan hukum, ijma’ menempati urutan yang ketiga. Artinya, apabila kita tidak mendapatkan hukum dalam al-Qur’an maupun dalam as-Sunnah, maka kita tinjau apakah para ulama’ kaum muslimin telah ijma’. Apabila ternyata demikian, maka ijma’ mereka kita ambil dan kita laksanakan.

Mayoritas ahli ushul al-fiqh setelah al-Syafi’iy memberikan pengertian Ijma’ sebagai kesepakatan ulama atau mujtahid mengenai suatu hukum Islam. Misalnya al-Syiraziy (w. 476 H.), mengartikan Ijma’ sebagai kesepakatan ulama mengenai hukum suatu peristiwa. Sedang menurut al-‘Amidiy (w. 631 H.) Ijma’ adalah kesepakatan semua anggota ahl al-hill wa al-‘aqd dari umat Muhammad dalam satu priode tertentu mengenai suatu hukum peristiwa tertentu. Ijma’ ialah kebulatan pendapat semua mujtahidin umat Islam atas sesuatu pendapat (hukum) yang disepakati oleh mereka, baik dalam suatu pertemuan atau berpisah-pisah, maka hukum tersebut mengikat (wajib ditaati) dan dalam hal ini Ijma’ merupakan dalil qath’iy, akan tetapi kalau hukum tersebut haya keluar dari kebanyakan mujtahidin maka hanya dianggap sebagai dalil Dzanniy dan lagi perseorangan boleh mengikuti sedang bagi orang-orang tingkatan mujtahidin boleh berpendapat lain, selama oleh para penguasa tidak diwajibkan untuk melaksanakannya. Ijma’ harus mempunyai dasar yaitu al-Quran dan al-Sunnah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar